Sabtu, 26 September 2009

Wawasan Arsitektur


Terminologi
Arsitektur menurut kamus Oxford : art and science of building; design or style of building(s). adalah seni dan ilmu dalam merancang bangunan. Pengertian ini bisa lebih luas lagi, arsitektur melingkupi semua proses analisa dan perencanaan semua kebutuhan fisik bangunan,namun dalam bahasan situs ini,penulis membatasi pada pengorganisasian perancangan bangunan, mulai dari level makro yaitu perencanaan kota, perancangan perkotaan, arsitektur lansekap, hingga ke level mikro yaitu rancang interior / eksterior, rancang asesoris dan pernik-pernik produk pelengkap. Arsitektur juga merujuk kepada hasil-hasil proses perancangan tersebut.


Kriteria dan Batasan
Pameo mengatakan: Architecture is silent language. Arsitektur merupakan bahasa yang tidak terucapkan ,namun dapat dimengerti para pemakainya

Buku De Architectura merupakan karya tulis rujukan paling tua yang ditulis Vitruvius, dalam buku itu diungkapkan bahwa bangunan yang baik haruslah memiliki aspek:

  • Keindahan / Estetika (Venusitas)
  • Kekuatan (Firmitas)
  • Kegunaan / Fungsi (Utilitas);

Arsitektur adalah penyeimbang dan pengatur antara ketiga unsur tersebut, dimana semua aspek memiliki porsi yang sama sehingga tidak boleh ada satu unsur yang melebihi unsur lainnya. Dalam definisi modern, arsitektur harus mencakup pertimbangan fungsi, estetika, dan psikologis. Namun, dapat dikatakan pula bahwa unsur fungsi itu sendiri di dalamnya sudah mencakup baik unsur estetika maupun psikologis.

Arsitektur adalah bidang multi-disiplin ilmu, termasuk di dalamnya adalah matematika, sains, seni, teknologi, humaniora, ekonomi,sosial,politik, sejarah, filsafat, dan sebagainya. Diperlukan kemampuan untuk menyerap berbagai disiplin ilmu ini dan mengaplikasikannya dalam suatu sistematika yang integral.
Vitruvius menyatakan, "Arsitektur adalah ilmu yang timbul dari ilmu-ilmu lainnya, dan dilengkapi dengan proses belajar: dibantu dengan penilaian terhadap karya tersebut sebagai karya seni". Ia pun menekankan perlunya seorang arsitek memahami sosial,kedokteran,hukum,ekonomi,filsafat, dsb. Filsafat adalah salah satu yang utama di dalam pendekatan arsitektur. Rasionalisme, empirisisme, strukturalisme, post-strukturalisme, dan fenomenologi adalah beberapa pengaruh filsafat terhadap arsitektur.


Teori dan Praktek
Teori sangatlah penting untuk menjadi landasan acuan, walaupun juga tidak boleh mendominasi secara ekstrim. Kenyataanya, banyak arsitek mengabaikan teori dalam perencanaan dan perancangan. Vitruvius juga berkomentar:

"Praktek dan teori adalah akar arsitektur. Praktek pelaksanaan sebuah proyek atau pengerjaannya yang didapatkan dalam proses perenungan, dalam proses mendayagunakan bahan bangunan dengan cara yang terbaik. Teori adalah hasil pemikiran beralasan yang menjelaskan proses konversi bahan bangunan menjadi hasil akhir sebagai jawaban terhadap suatu persoalan. Seorang arsitek yang tidak memiliki landasan teori kuat tidak akan dapat menjelaskan alasan dan dasar mengenai bentuk-bentuk yang dia pilih. Sementara arsitek yang berteori tanpa berpraktek hanya berpegang kepada "imajinasi" dan bukannya substansi. Seorang arsitek yang berpegang pada teori dan praktek, ia memiliki senjata ganda. Ia dapat membuktikan kebenaran hasil rancangannya dan juga dapat mewujudkannya dalam pelaksanaan".


Sejarah

Arsitektur terbentuk karena adanya kebutuhan (kebutuhan kondisi lingkungan yang kondusif, keamanan, dsb), dan kebutuhan ini menuntut perlakuan/cara menyikapi obyek(bahan bangunan yang tersedia dan teknologi konstruksi). Arsitektur prasejarah dan primitif merupakan tahap awal dinamika ini. Kemudian manusia menjadi lebih maju dan pengetahuan mulai terbentuk melalui tradisi lisan dan praktek-praktek, arsitektur berkembang menjadi ketrampilan. Pada tahap ini lah terdapat proses uji coba, improvisasi, atau peniruan sehingga menjadi hasil yang sukses. Seorang arsitek saat itu bukanlah seorang figur penting, ia semata-mata melanjutkan tradisi. Arsitektur Vernakular lahir dari pendekatan yang demikian sampai sekarang masih diterapkan di banyak tempat di dunia.

Permukiman manusia di masa lalu pada dasarnya bersifat rural. Masyarakat lebih banyak terkonsentrasi di daerah pedesaan dan didominasi pola hidup pertanian.Kemudian timbullah surplus produksi, sehingga masyarakat rural berkembang menjadi masyarakat urban.

Tuntutan kebutuhan masyarakat akan bangunan dan tipologinya pun meningkat. Teknologi pembangunan fasilitas umum seperti jalan dan jembatan pun berkembang. Tipologi bangunan baru seperti sekolah, rumah sakit, dan sarana rekreasi pun bermunculan. Arsitektur Religius tetap menjadi bagian penting di dalam masyarakat. Gaya-gaya arsitektur berkembang, dan karya tulis mengenai arsitektur mulai bermunculan. Karya-karya tulis tersebut menjadi kumpulan aturan (kanon) untuk diikuti khususnya dalam pembangunan arsitektur religius. Contoh kanon ini antara lain adalah karya-karya tulis oleh Vitruvius, atau Vaastu Shastra dari India purba. Di periode Klasik dan Abad Pertengahan Eropa, bangunan bukanlah hasil karya arsitek-arsitek perorangan, melainkan oleh para seniman/ ahli keterampilan bangunan yang dihimpun dalam satu asosiasi untuk mengorganisasi proyek.

Pada masa Renaissance (pencerahan), humaniora dan penekanan terhadap individual menjadi lebih penting daripada agama, dan menjadi awal yang baru dalam arsitektur. Pembangunan ditugaskan kepada arsitek-arsitek individual - Michaelangelo, Brunelleschi, Leonardo da Vinci - dan kultus individu pun dimulai. Namun pada saat itu, tidak ada pembagian tugas yang jelas antara seniman, arsitek, maupun insinyur atau bidang-bidang kerja lain yang berhubungan. Pada tahap ini, seorang seniman pun dapat merancang jembatan karena penghitungan struktur di dalamnya masih bersifat umum.

Perkembangan jaman yang diikuti revolusi berbagai bidang ilmu (misalnya engineering), dan penemuan bahan-bahan bangunan baru serta teknologi, menuntut para arsitek untuk mengadaptasi fokus dari aspek teknis bangunan kepada estetika (keindahan bentuk).

Kemudian dikenal istilah "arsitek aristokratik" yang lebih suka melayani bouwheer (owner/Client) yang kaya dan berkonsentrasi pada unsur visual dalam bentuk yang merujuk pada contoh-contoh historis. Contohnya, Ecole des Beaux Arts di Prancis pada abad 19 mengkader calon-calon arsitek menciptakan sketsa-sketsa dan gambar cantik tanpa mengiraukan konsep yang kontekstual.

Sementara itu, Revolusi Industri menggerakkan perubahan yang sangat drastis yang membuka diri bagi masyarakat luas, sehingga estetika dapat dinikmati oleh masyarakat kelas menengah. Dulunya produk-produk berornamen estetis terbatas dalam lingkup keterampilan yang mewah, menjadi terjangkau melalui produksi massal. Produk-produk sedemikian tidaklah memiliki keindahan dan kejujuran dalam ekspresi dari sebuah proses produksi.

Keadaan tersebut menimbulkan perlawanan dari seniman maupun arsitek pada awal abad ke-20, yang melahirkan pemikiran-pemikiran yang mengilhami Arsitektur Modern, antara lain, Deutscher Werkbund (dibentuk 1907) yang memproduksi bahan-bahan bangunan buatan mesin dengan kualitas yang lebih baik merupakan titik lahirnya profesi dalam bidang desain industri. Setelah itu, sekolah Bauhaus (dibentuk di Jerman tahun 1919) menafikan sejarah masa lalu dan cenderung menempatkan arsitektur sebagai perpaduan skill ,seni, dan teknologi.
Ketika Arsitektur Modern mulai dikembangkan, ia merupakan sebuah elit terkemuka berlandaskan filosofis,moral, dan estetis. Konsep perencanaan kurang mengindahkan sejarah dan condong kepada fungsi yang melahirkan bentuk. Peran Arsitek menjadi sangat penting dan dianggap sebagai "kepala/pimpinan". Kemudian arsitektur modern masuk ke dalam lingkup produksi massal yang sederhana dan relatif murah sehingga mudah diperoleh.

Dampaknya, bangunan di berbagai tempat memiliki bentuk yang mirip/cenderung tipikal. Tidak ada ciri khas ataupun keunikan bangunan Arsitektur Modern ini, masyarakat umum mulai jenuh menerima arsitektur modern pada tahun 1960-an, antara lain karena kekurangan makna, kemandulan,keseragaman, serta kesan-kesan psikologisnya. Sebagian arsitek berusaha menghilangkan kesan buruk ini dengan menampilkan Arsitektur Post-Modern yang membentuk arsitektur yang lebih dapat diterima umum pada tingkat visual, meski dengan mengabaikan konsepnya.

Arsitektur Post Modern ini lebih dikenal sebagai arsitektur yang "mengawinkan" dua code/langgam/style. Misalnya, antara yang antik dan modern, antara maskulin (bangunan dengan struktur lebih dominan) dan feminin (kecantikan eksterior dominan ), antara western dengan timur, yang kuno dengan yang baru ,dll.

Sedangkan kalangan lain baik arsitek maupun non-arsitek menjawab dengan menunjukkan apa yang mereka pikir sebagai akar masalahnya. Mereka merasa bahwa arsitektur bukanlah perburuan filosofi atau estetika secara perorangan, melainkan haruslah mempertimbangkan kebutuhan manusia sehari-hari dan mengunakan teknologi untuk mewujudkan lingkungan yang dapat dihuni. Design Methodology Movement yang melibatkan tokoh-tokoh Chris Jones atau Christopher Alexander mulai mencari proses yang lebih terbuka dalam perancangan, untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Analisa terperinci dalam berbagai bidang seperti behaviour,habitat, environment, dan humaniora dilakukan untuk menjadi dasar proses perancangan.Mereka berharap bahwa arsitektur merupakan bahasa yang komprehensif untuk menjadi media antara kebutuhan dan pelaksanaan proyek.
Bersamaan dengan meningkatnya kompleksitas bangunan,arsitektur menjadi lebih multi-disiplin daripada sebelumnya. Arsitektur sekarang ini membutuhkan sekumpulan profesional dalam pengerjaannya. Namun demikian, arsitek individu masih disukai dan dicari dalam perancangan bangunan yang bermakna simbol budaya. Contohnya, di kota Semarang, karya Thomas Kaarsten ,arsitek peranakan jawa-belanda banyak mendominasi bangunan Belanda di Semarang.

Kesimpulan

Bangunan adalah hasil karya manusia yang paling nyata, dan merupakan kebutuhan utama manusia. Tetapi kenyataannya, banyak sekali bangunan masih dirancang oleh masyarakat sendiri atau mandor-tukang batu di negara-negara berkembang, sedang di negara maju diproduksi secara "massal" sebagai produk tipikal seperti orang memproduksi baju.

Arsitek sering disisihkan dalam pembangunan, hanya karena masalah biaya dan prosedural. Keahlian arsitek hanya dibutuhkan dalam pembangunan bangunan berskala besar, atau bangunan yang memiliki makna ekonomi/ budaya / politis yang penting. Dan inilah yang diterima oleh masyarakat umum sebagai arsitektur,sedangkan bangunan lain, yang dianggap sederhana ataupun berskala kecil mungkin cukup dirancang oleh mandor-mandor yang mendapatkan ilmunya dari proses pengalaman empirikal di lapangan. Peran arsitek, selalu turun-naik mengikuti perkembangan jaman, tidak pernah mendominasi dan tidak pernah terlepas dari masyarakat sebagai pribadi bebas. Selalu akan ada dialog antara masyarakat dengan arsitek antara owner dengan arsitek, dan antara arsitek dengan bidang terkait lainnya.Dan hasilnya adalah sebuah output yang disebut arsitektur, sebagai sebuah produk dan sebuah disiplin ilmu yang solid.

Sumber pustaka: Oxford Advanced Learner's Dictionary,De Architectura ,Vitruvius ; Concept Source Book by Robert T.White

dll

Sumber :

http://archipeddy.com/ess/term_ars.html

27 September 2009

Sumber Gambar :

www.essential-architecture.com/

Perpaduan Seni Jawa-Islam

Arsitektur Islam di Jawa, pada hakikatnya, tidak terlepas dari keberadaan kebudayaan dan tradisi yang sudah ada sebelum Islam masuk di wilayah ini. Tidak mengherankan, bila di masa-masa awal masuknya Islam di tanah Jawa, bentuk-bentuk masjid masih menggunakan gaya arsitektur tradisional yang cenderung bernuansa Hinduisme. Itu tampak seperti pada penggunaan atap tajuk dan pemakaian mustaka pada puncak atapnya. Bahkan, pada beberapa masjid, ada yang memiliki pendopo di depan masjid atau serambi masjid.

Tidak itu saja. Masuknya Islam ke Jawa juga berkaitan dengan kekuasaan raja-raja masa itu sehingga menghasilkan bangunan masjid yang cukup megah pada zamannya dengan kekhasan tersendiri. Perpaduan itu tampak, misalnya, dari bangunan masjid yang ada dalam lingkungan keraton. Umumnya, sebuah kerajaan Islam memiliki keraton yang berdampingan dengan masjid.

Pertimbangan memadukan unsur-unsur budaya lama dengan budaya baru dalam arsitektur Islam menunjukkan adanya akulturasi dalam proses perwujudan arsitektur Islam, khususnya di Jawa. Apalagi, dalam sejarahnya, pada awal perkembangan agama Islam di Jawa, penyebaran Islam dilakukan dengan proses selektif tanpa kekerasan sehingga sebagian nilai-nilai lama masih tetap diterima untuk dikembangkan.

Ajaran Islam yang masuk tanpa kekerasan dan bersifat terbuka terhadap unsur-unsur kebudayaan lama yang telah ada memengaruhi wujud dalam arsitektur Islam, khususnya arsitektur masjid. Karena itulah, bangunan-bangunan masjid yang ada dipengaruhi oleh faktor sejarah, latar belakang kebudayaan daerah, lingkungan, serta adat istiadat masyarakat setempat.

Konon, sebelum membangun Masjid Demak, Sunan Kalijaga berdiri di tengah lahan tempat masjid akan didirikan sambil merentangkan tangan. Tangan kirinya tertuju ke arah bumi dan tangan kanannya ke arah kiblat. Sikap ini dilakukan bukan tanpa maksud. Ia berkeinginan bahwa dalam berarsitektur harus memerhatikan kaidah atau nilai yang sudah ada di masyarakat dan memikirkan kaidah baru yang akan dimasukkan. Maklum, saat itu telah ada kaidah Hindu dan Buddha. Kaidah Islam merupakan kaidah baru yang akan dimasukkan. Kaidah-kaidah inilah yang dipadukan dengan baik dalam karya arsitektur Islam.

Masjid Agung Demak di Jawa Tengah mempunyai nilai historis cukup penting yang berkaitan dengan sejarah perkembangan agama Islam di Jawa. Legenda-legenda muncul dari sejarah perkembangannya yang kemudian menempatkannya pada kedudukan yang keramat bagi masyarakat yang meyakininya. Bangunan masjid ini berdiri di atas lokasi sekitar alun-alun Kota Demak. Wujud arsitekturalnya menunjukkan akulturasi kebudayaan Islam dengan kebudayan Hindu saat itu. Atap bangunannya runcing ke atas dengan tiang-tiang penopang yang besar dan tinggi. Motif-motif hias tiang bangunannya tampak berhubungan dengan kebudayaan Majapahit.

Demikian pula dengan Masjid Kudus yang dibangun oleh Sunan Kudus pada tahun 1549 Masehi. Menara masjid yang terletak di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, ini berbentuk candi bercorak Hindu Majapahit. Pembauran kebudayaan Hindu dengan kebudayaan Islam tampak jelas. Wujud bangunan menara dan adanya wujud bangunan candi inilah yang berasal dari kebudayaan Hindu. Ciri bangunan Hindu lebih dipertegas dengan konstruksi bangunan yang tersusun dari bahan batu bata dengan pola bangunan kepala (mahkota)--badan kaki, sedangkan ciri bangunan Islam adalah masjid sebagai bangunan induknya.

Penampilan keseluruhan masjid ini merupakan satu kesatuan dalam satu kompleks bangunan. Padahal, ada kalangan yang menilai bahwa usaha mempersatukan unsur Hindu dan Islam pada Masjid Menara Kudus tidaklah dilakukan melalui seleksi ketat sehingga tampak kurang adanya kesan saling mendukung antara bentuk yang satu dan bentuk yang lainnya. Hal ini menyebabkan masjid tersebut secara arsitektural tidak terlihat kesan menyatu antara unsur candi, bentuk gerbang yang bercorak Majapahit, dan bentuk kubah masjid yang menjadi ciri arsitektur Islamnya.

Dalam perjalan waktu, perpaduan budaya masih tetap mewarnai arsitektur Islam di Jawa. Hingga kini, bangunan masjid--yang kerap dimanifestasikan sebagai arsitektur Islam--tidak terlepas dari perpaduan budaya setempat dengan budaya lainnya. Itu bisa dilihat dari bangunan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) yang diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 11 November 2006.

Arsitektur masjid yang terletak di Jalan Gajah Raya, Semarang, ini merupakan perpaduan antara arsitektur Jawa, Arab, dan Yunani.

Konsep bangunan tersebut menggabungkan arsitektur Jawa, Islam, dan Roma. Pemilihan warna ataupun penataan interior masjid dirancang dengan bentuk dan hiasan yang didominasi oleh pengaruh dua budaya: Jawa dan Islam. Bentuk kubah, lengkungan, geometri bintang delapan, dan kaligrafi yang ada dalam masjid mencerminkan budaya Islam.

Masjid yang mampu menampung 15.000 jamaah ini mempunyai konsep yang diterjemahkan dalam tradisi
candra sengkala. Pesan dalam candra sengkala yang dipadu dalam kalimat "Sucining guna gapuraning gusti" (4391-1934 Jawa atau 2001 tahun Masehi Miladiyah) menandai awal terbesitnya niat untuk mulai membangun masjid mutiara tanah Jawa itu.

Ditinjau dari segi arsitekturnya, bangunan masjid ini meneladani prinsip gugus model kluster dari Masjid Nabawi di Madinah. Bentuk penampilan arsitekturnya merupakan gubahan baru yang mengambil model dari tradisi masjid para wali dengan membubuhkan corak universal arsitektur Islam pada bangunan pusatnya dengan menonjolkan kubah utama yang dilengkapi dengan "minaret" runcing menjulang di keempat sisinya.

Adanya perpaduan itu menunjukkan bahwa arsitektur Islam yang selama ini dipahami sebagai arsitektur yang dibangun oleh masyarakat Muslim telah melahirkan bentuk-bentuk yang memiliki karakternya sendiri sebagai cerminan komunitas Muslim. Bagaimanapun, konsentrasi arsitektur pada masa awal perkembangan Islam memang cenderung bernuansa teosentrisme sehingga melahirkan arsitektur yang sangat megah, berupa masjid, istana, makam, atau benteng. Hal itu berlanjut hingga saat ini pada bangunan berarsitektur Islam di Jawa yang memiliki ciri khas tersendiri dan berbeda dengan bangunan sejenis yang ada di daerah atau di negara lain. bur/berbagai sumber


Pengaruh Majapahit pada Arsitektur Islam

Arsitektur bangunan Masjid Agung Demak sedikit banyak dipengaruhi corak budaya Bali yang dipadu dengan langgam rumah tradisional Jawa Tengah. Ini mengindikasikan bahwa pembuatnya adalah arsitek pribumi yang tidak dapat meninggalkan unsur-unsur kebudayaan sendiri di masanya. Bangunan masjid yang terletak di sebelah barat alun-alun ini diperkirakan memiliki kedekatan dari arsitektur zaman Majapahit.

Kedekatan arsitektur Masjid Demak dengan bangunan Majapahit bisa disimak pada bentuk atapnya. Kubah--yang identik dengan ciri masjid sebagai bangunan Islam--malah tak digunakan. Bentuknya justru mengadopsi bangunan peribadatan agama Hindu. Ini merupakan upaya membumikan Masjid Demak sebagai sarana penyebaran agama Islam pada abad ke-15 di tengah masyarakat Hindu.

Bentuk atap yang dipakai adalah tajuk tumpang tiga. Bagian paling bawah menaungi ruangan berdenah segi empat. Atap bagian tengah mengecil dengan kemiringan lebih tegak ketimbang atap di bawahnya. Sedangkan, atap tertinggi berbentuk limasan dengan tambahan hiasan mahkota pada puncaknya. Komposisi ini mirip
meru, bangunan tersuci di pura Hindu.

Masjid ini diperkirakan didirikan pada tahun 1477 M atas kerja sama walisanga. Dari tahun pendiriannya, Masjid Demak dianggap sebagai masjid pertama yang berarsitektur atap tumpang. Sebelum kebudayaan Islam masuk ke Indonesia, khususnya di Jawa, sudah ada kebudayaan Hindu-Buddha yang mengenal seni bangunan suci. Antara lain, atapnya berbentuk tumpang yang hingga kini masih banyak dijumpai di Bali--disebut bangunan
meru. Kesamaan bentuk atap ini memberikan petunjuk adanya akulturasi antara unsur bangunan kebudayaan Islam dengan Hindu-Buddha pada masa itu.

Arsitektur Masjid Agung Demak tak jauh berbeda dengan arsitektur Masjid Menara Kudus. Menara masjid yang dibangun pada tahun 1549 Masehi ini berbentuk candi yang bercorak Hindu Majapahit. Bentuk ini sulit ditemui kemiripannya dengan berbagai menara masjid lainnya yang ada di seluruh dunia.

Bangunan ini memperlihatkan sistem, bentuk, dan elemen bangunan Jawa-Hindu. Hal ini bisa dilihat dari kaki dan badan menara yang dibangun dan diukir dengan tradisi Jawa-Hindu, termasuk motifnya. Ciri lainnya bisa dilihat pada penggunaan material batu bata yang dipasang tanpa perekat semen--konon dengan digosok-gosok hingga lengket--dan secara khusus adanya selasar yang biasa disebut
pradaksinapatta pada kaki menara yang sering ditemukan pada bangunan candi.

Teknik konstruksi tradisional Jawa juga dapat dilihat pada bagian kepala menara yang berbentuk suatu bangunan berkonstruksi kayu jati dengan empat saka guru yang menopang dua tumpuk atap tajuk. Di bagian puncak atap tajuk, terdapat semacam
mustoko (kepala), seperti pada puncak atap tumpang bangunan utama masjid-masjid tradisional di Jawa yang merujuk pada elemen arsitektur Jawa-Hindu.

Arsitektur jawa dan Timur Tengah tampak pada bangunan Masjid Agung Jawa Tengah yang dibangun sejak tahun 2001. Masjid yang berlokasi di Jalan Gajah, Semarang, ini berdiri di atas lahan 10 hektare dan memiliki fasilitas yang sangat lengkap, seperti
convention hall (auditorium), souvenir shop, pujasera, gedung perkantoran, perpustakaan, dan menara pandang. bur/berbagai sumber/kem

- 8 Maret 2009

Sumber :
27 September 2009

Arsitektur Penuh Ekspresi

Seni arsitektur di Jerman memiliki banyak pusat regional, tetapi sejak reunifikasi ada pula titik pusatnya di Berlin. Di ibu kota dapat dilihat arsitektur dunia pada lahan yang sempit: Apakah itu Lord Norman Foster yang merombak bekas Gedung Reichstag menjadi gedung parlemen baru Jerman, Renzo Piano, Daniel Libeskind, I. M. Pei atau Rem Koolhaas – daftar arsitek internasional yang menggariskan wajah Berlin yang baru cukup panjang. Tidak ketinggalan juga arsitek-arsitek Jerman terkemuka yang ikut mewujudkan ibu kota baru, di antaranya Helmut Jahn, von Gerkan Marg dan Partner, Hans Kollhoff dan Josef Paul Kleihues. Di pelabuhan lama di Hamburg, Düsseldorf dan Köln diadakan eksperimen dengan corak arsitektur baru, dan di beberapa kota didirikan gedung museum baru yang menonjol. Contohnya antara lain Pinakothek der Moderne di München oleh Stephan braunfels, Museum MARTa di Herford karya Frank Gehry, Langen Foundation oleh Tadao Ando di Neuss atau Museum der bildenden künste di Leipzig yang dirancang oleh kelompok arsitek Hufnagel Pütz Rafaelian dari Berlin.


Disain Arsitektur 1900 - 1949

1920

Arsitek Peter Behrens (1868– 1940), perintis arsitektur industri yang lugas dan pelopor desain industri, merancang bangunan bergaya ekspresionis untuk Farbwerke Hoechst.

1924

Sebagai tenaga terampil berusia 24 tahun yang bekerja di Bauhaus, Wilhelm Wagenfeld (1900-1990) merancang lampu meja terkenal bergaya modern klasik yang digemari sampai sekarang.

1927

“Kurang adalah lebih”, begitulah moto terkenal arsitek dan pendesain Ludwig Mies van der Rohe (1886-1969). Bentuk yang jernih dan tereduksi dari kursi MR 10-nya yang berayun bebas masih tetap terlihat modern.


1931

Perangkat piring-cangkir Service 1382 rancangan Hermann Gretsch (1895-1950) yang kesederhanaan bentuknya dianggap revolusioner pada waktunya termasuk koleksi Neue Sammlung di München.


Disain Arsitektur 1950 - 1999

Egon Eiermann (1904-1970) memperlengkapi anjungan Jerman pada pameran dunia Expo di Brussel dengan kursi lipat SE 18. Eiermann dianggap sebagai salah seorang arsitek terpenting di masa pascaperang.

1956

Kombinasi radio dan pemutar piringan hitam SK 4 rancangan Dieter Rams (lahir 1932) dan Hans Gugelot dijuluki “Peti mati Putri Salju”. Lebih dari 40 tahun lamanya Rams menentukan gaya desain fungsional perusahaan Braun.

1963

Mobil Porsche 911 yang dirancang oleh Ferdinand Alexander Porsche berkembang menjadi “mitos beroda”. Konsep mobil sport itu nyaris tidak berubah hingga kini.



Disain Arsitektur 2000 - Sekarang


2000

Gedung Sony Center di Lapangan Potsdam yang dirancang oleh Helmut Jahn (lahir 1940) memesonakan karena konstruksi atap-tendanya yang tidak biasa. Karya warga Amerika asal Jerman tersebut dalam waktu singkat telah menjadi lambang arsitektur baru Berlin.

2003

Warga München Konstantin Grcic (lahir 1965) termasuk di antara pendesain muda yang paling berhasil. Chair one merupakan contoh khas desainnya yang minimalistis.

2005

Sejak 22 tahun Karl Lagerfeld (lahir 1938) menjadi otak kreatif di rumah mode Chanel di Paris. Metropolitan Museum of Art di New York menyelenggarakan pameran besar mengenai karyanya.



Sumber :


27 September 2009






Kampung Naga, Percontohan Sertifikasi Arsitektur Hemat Energi

Kampung Adat Naga di Tasikmalaya akan dijadikan percontohan sertifikasi desain arsitektur bangunan hijau dan hemat energi Indonesia. Sertifikasi dilakukan Green Building Council of Indonesia (GBCI).

Rencana ini disampaikan Tondy O Lubis, salah satu pendiri GBCI, dalam seminar "Menyongsong Era Desain Arsitektur Hemat Energi di Indonesia", akhir pekan lalu di Kampus Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.

GBCI adalah institusi pertama di Indonesia yang berhak melakukan sertifikasi dan rating terhadap bangunan berasitektur hijau dan hemat energi. Institusi yang berada di dalam naungan jaringan besar World Green Building Council ini didukung 21 perusahaan besar di Indonesia.

"Tidak betul bahwa green building itu harus
hi tech dan mahal. Buktinya, rumah-rumah adat di Kampung Naga. Ini bisa membuka mata dunia bahwa Indonesia punya warisan bangunan hijau," ujar Direktur Manajemen Fasilitas dan Properti Colliers International Indonesia ini.

Tondy menyatakan kekagumannya akan arsitektur rumah adat di Kampung Naga. Rumah-rumah ini beratap daun ijuk dengan struktur bangunan dari bambu. Desain arsitektur dan interiornya tertata apik sehingga udara dan cahaya tersirkulasi dengan baik.

Dengan desain ini, masyarakat tidak lagi membutuhkan penerangan listrik. Yang mengagumkan, bangunan adat ini tahan gempa besar, seperti gempa Tasikmalaya dua pekan lalu. Tidak ada satu pun bangunan di tempat ini rusak.

Menurut Tondy, bangunan berarsitektur hijau dan hemat energi masih jarang di Indonesia, jauh tertinggal dari negara lain, seperti Malaysia dan Singapura.

"Kita negara miskin, tetapi borosnya minta ampun," ujarnya menggambarkan masih rendahnya kesadaran membuat bangunan hijau di negara ini.

Padahal, menurut Teguh Satria, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Perusahaan Real Estat Indonesia, aplikasi bangunan hemat energi, misalnya memanfaatkan taman atap, dapat menurunkan suhu ruangan hingga 8 derajat celcius. Ini berimplikasi pada efisiensi penggunaan tenaga listrik untuk pendingin udara.
(jon)

- 16 September 2009


JON
Sumber :

Jon, Kompas Cetak, dalam :
27 September 2009

Belajar Arsitektur di Australia

Apa yang diperlukan untuk mendesain atau membuat karya besar arsitektur? Anda akan memerlukan banyak inspirasi dan kreativitas, tetapi pertama-tama Anda akan memerlukan kualifikasi.

Fondasi kuat untuk masa depan Anda

Sebagai mahasiswa arsitektur, Anda akan mempelajari segala hal dari desain teknik dan struktural, manajemen bangunan dan proyek, grafik dan desain, sampai bisnis.

Apabila Anda ingin belajar yang lebih luas lagi, pertimbangkan gelar ganda—Anda dapat menggabungkan arsitektur dengan arsitektur lansekap, konstruksi dan bahkan hukum.

Anda akan menghabiskan banyak waktu di studio desain dan pada tugas praktik di luar universitas. Seperti dokter dan pengacara, arsitek memerlukan pengalaman yang luas di bidangnya sebelum mereka dapat melakukan praktik. Anda dapat melihat bahwa universitas Anda akan memasukkan pengalaman kerja ke dalam mata kuliah Anda.

Sebagian besar program studi tingkat pascasarjana dirancang bagi para profesional untuk meningkatkan keahlian mereka. Tetapi, apabila seperti banyak profesional lainnya, Anda melihat arsitektur sebagai suatu disiplin ilmu dan juga praktik, Anda dapat bergabung dengan banyak mahasiswa riset yang memperluas pengetahuan mereka melalui gelar master dan doktor dalam arsitektur, seni atau desain.

Apabila Anda memilih untuk studi di lembaga pendidikan dan pelatihan kejuruan (VET/vocational education and training), Anda akan menemukan banyak program studi para-profesional atau kejuruan yang tersedia. Anda dapat menemukan informasi lebih lanjut dalam profil ‘tata lingkungan bangunan’.

Pengakuan profesional untuk karir global

Di Australia, sebelum Anda terdaftar sebagai seorang arsitek, Anda harus melakukan beberapa pengalaman praktik, sebelum menempuh ujian. Persyaratannya akan sedikit berbeda pada setiap negara, tetapi begitu Anda memenuhi syarat di Australia, gelar Anda bisa membawa Anda ke mana pun Anda inginkan.

APEC Architecture Register telah menjadikan bekerja di luar negeri jauh lebih mudah. Arsitek yang memenuhi syarat di Australia dan negara anggota lainnya dapat mengajukan izin praktik di Kanada, China, Hong Kong, Jepang, Republik Korea, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Taiwan, Thailand dan Amerika Serikat.

Mata kuliah arsitektur adalah beberapa dari mata kuliah yang paling menyenangkan dan memperkaya diri, terutama saat Anda mempelajarinya di luar negeri.

Gunakan fungsi Search (Pencarian) kami untuk melihat daftar lembaga Australia yang menawarkan kualifikasi dalam bidang ini.

Informasi lebih lanjut

Royal Australian Institute of Architects http://www.architecture.com.au/

APEC Architect Register http://www.apecarchitect.org/


Sumber :
27 September 2009

Memilih Material Bangunan Rumah Sehat

Tahukah Anda, anak kecil lebih peka 30 kali terhadap pencemaran bahan-bahan material berbahaya dalam rumah?

Siapa sih yang tidak ingin rumah menjadi tempat yang mendukung kesehatan kita? Seluruh anggota keluarga tinggal dalam rumah, sehingga kesehatan rumah harus sangat dijaga. Dalam memilih bahan bangunan, ada baiknya kita memperhatikan kesehatan material bangunan, terlebih karena pilihan material menjadi sangat beragam akhir-akhir ini dan kita bisa memilih bahan yang tidak membahayakan kesehatan.

Secara tidak sadar, bahan bangunan, apalagi yang baru sering mengandung bahan berbahaya yang dapat menimbulkan penyakit, terutama bahan bangunan hasil industri, seperti kayu olahan, particle board, cat tembok, pipa plastik, dan sebagainya. Bahan bangunan ini dapat menimbulkan berbagai penyakit seperti kanker, gangguan pernafasan, penyakit kulit dan sebagainya. Tentunya korban paling dirugikan adalah penghuni rumah karena setiap hari harus berkontak dengan bahan-bahan berbahaya ini, terutama anak kecil. Berikut ini tabel bahan bangunan berbahaya;

Bahan bangunan/ materialBahaya/ penyakit yang ditimbulkan
Kayu
sumber bahaya: penggunaan politur, melamin (urea formal-dehyde)
Alergi kulit, mata, gangguan selaput lendir
Pipa PVC, lem PVC, cat PVC, Lantai Vilil, karpet plastik (yang dibuat dari PVC), lem kontakKanker, pembakaran menguapkan asam klorida (mematikan tanaman), penyakit hati, ginjal
Cat sintetis (cat besi/kayu), thinner, cat epoksi yang mengandung etylalkohol, epoksi mesinPenyakit syaraf, darah, pernafasan, mata buta, gangguan keseimbangan, selaput lendir, eksim pada kulit
Asbes (plafon dan atap)Asbestose (penyakit paru), kanker
Gas radon (merupakan penguapan dari tanah)Mutagen dan karsinogenik (penyebab kanker)

Dengan banyaknya bahan material berbahaya yang mungkin ada disekitar kita tanpa disadari, bahaya yang muncul selalu mengintai. Inilah sebabnya penghuni rumah baru seringkali mendapatkan penyakit-penyakit kepala, mual, stress, dan lain-lain yang disebabkan oleh pencemaran dalam rumah.

Pemilihan bahan bangunan dan material untuk isi rumah

Pemilihan bahan bangunan dapat berpengaruh pada kesehatan Anda, karena dari bahan bangunan, dapat timbul pencemaran udara dan gangguan kesehatan akibat terlepasnya gas beracun, bahan-bahan karsinogenik (penyebab kangker), dan sebagainya. Contoh bahan material yang dapat mengganggu kesehatan:

Finishing cat, finishing kayu olahan, finishing besi, dapat mengandung formaldehyde, bahan beracun yang dapat mengeluarkan gas beracun yang dapat menimbulkan keracunan, alergi, memicu asma, penyakit tenggorokan dan pernafasan, serta menimbulkan kanker (karsinogenik). Karena bahan ini banyak digunakan didalam material untuk rumah tinggal seperti cat, lem kayu, dan sebagainya, sangat mungkin ini menjadi sumber utama polusi udara didalam rumah. Saran untuk hal ini, bila rumah baru saja dicat, atau ada furniture yang baru difinishing (dicat/dipolitur), sebaiknya tidak dihuni dahulu sementara waktu hingga bau menyengat dari formaldehyde tidak tercium lagi. Normalnya, emisi gas ini tetap tinggi selama 6 - 12 bulan. Sebaiknya ventilasi dalam ruangan dipikirkan dan digunakan dengan baik agar gas dapat lebih dinetralisir oleh udara segar.

Pada saat ini banyak dikembangkan bahan-bahan finishing berbahan dasar air, yang lebih ramah lingkungan karena kandungan bahan kimia organik yang mudah menguap lebih rendah. Berbagai bahan material rumah tinggal yang baik digunakan sebenarnya tersedia cukup banyak. Bahan material ini biasanya langsung berasal dari alam dan tidak melalui industri yang melibatkan bahan kimia berbahaya. Contoh material bangunan yang sehat antara lain:

Bahan material dari alamBatu alam, tanah liat, batako, kayu, bambu, rumbia, ijuk, alang-alang, logam
Bahan material buatanbata merah, genteng tanah, kaca, beton, batako, conblok, kertas

Jika melihat dari daftar diatas, tidak mengherankan bila orang-orang jaman dahulu lebih sehat daripada saat ini, karena mereka memakai bahan material bangunan yang langsung dari alam. Hmm, setidaknya, kita punya pilihan saat memilih material bangunan.


- 25 Mei 2009


Sumber :

Probo Hindarto, Rosi Rahadi

http://www.astudio.id.or.id/artikel74material-bangunan-rumah-house.htm

27 September 2009